Malam puncak Pentas Akhir Kepengurusan sukses diselenggarakan secara virtual melalui kanal YouTube pada hari Sabtu, (12/12/2020). Pertunjukan yang digelar dari Pendopo Tirto Arum Sari, Desa Pedes, Sedayu, Bantul, Yogyakarta itu disaksikan oleh sekitar 1400 penonton dari berbagai daerah di Indonesia.Ketua panitia dari acara PAK tersebut, Fajar Setyawan mengatakan, pertunjukan ini telah dirangkai sedemikian rupa dari pembukaan PAK, rangkaian PAK, hingga Malam Puncak PAK agar tercipta keharmonian di dalamnya. Mulai dari pertunjukan Jathilan di sore hari, lalu pengumuman lomba dan penganugrahan Dhimas & Dhiajeng 2020, dan acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit ‘Lakon Banjaran Werkudara’ Dhalang Ki Aldi Gedruk.
“Diangkatnya tema ‘Satria Mudha Hangreksa Kuncaraning Budaya’ diharapkan anggota dari warga PBD mampu menjadi seorang satria yang tetap menjaga dan melestarikan budaya,” tegas Dewi Ratnasari selaku staff acara. “Hingga dipersembahkanlah tarian Jathilan oleh warga PBD angkatan 2018 yang telah usai menjalankan kepengurusan di Hima Jawa selama 2 periode,” tutup Dewi.
Dalam sebuah pertunjukan Jathilan maupun pagelaran wayang tidak akan terpisahkan dengan karawitan. Karawitan merupakan seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog. Komponen dari karawitan itu sendiri, yaitu penabuh gamelan, pemain, pawang, serta sinden berasal dari warga Pendidikan Bahasa Daerah. Baik dari angkatan lama maupun angkatan baru.
Pengumuman lomba dan penganugrahan Dhimas & Dhiajeng PBD 2020 adalah inti dari acara tersebut. Untuk memperkenalkan budaya yang ada di jurusan PBD, maka diadakanlah pemilihan Dhimas & Dhiajeng ini. Nantinya, mereka akan mewakili jurusan, bahkan universitas, dalam perlombaan di luar daerah. Misalnya, tahun lalu Dhimas & Dhiajeng PBD 2019 mengikuti lomba di IMBASADI (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia). Di tahun 2020 ini, Dhimas & Dhiajeng dianugrahkan kepada Dhimas Nur Rosyid Hidayat dan Dhiajeng Bintang Galuh Nayak Dewi.
Di malam puncak PAK ini, pagelaran wayang kulit menjadi penutup acara yang megah sekaligus mahal. Pagelaran wayang ini didhalangi oleh Ki Aldi Gedruk, nama aslinya yaitu Aldi Rizq’ Abdiel Muhamad. Dia adalah seorang dhalang dan pengrawit lulusan SMKI Yogyakarta. Maka tidak perlu diragukan lagi kebolehannya dalam memainkan seni pertunjukan wayang. Ki Aldi Gedruk mengangkat kisah Lakon Banjaran Werkudara. Dimana kisah tersebut menceritakan kehidupan Werkudara sejak ia lahir, hingga ia mati.
“Kesan saya terhadap Malam Puncak Pentas Akhir Kepengurusan tahun ini sudah bagus ya. Acara alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Alhamdulillah juga dapat tempat yang nyaman untuk pelaksanaan acara ini. Pokoknya terima kasih kepada teman-teman yang sudah berproses di dalamnya hingga akhir. Kurangnya disini mungkin karena pandemi ya, jadi suasananya kurang ramai. Sehingga memperlihatkan kesan sepi,” pungkas Hasta Prima, Ketua Hima Jawa 2019.